Astrid sedang khusyuk membacakan surat Yasin ketika di rumahnya sedang diadakan pengajian rutin dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya alm. Ibundanya malam itu. Setelah semuanya selesai, para tamu pun mulai pamit. Seketika itu pula Astrid mulai membantu Sandra untuk berberes rumah sambil melihat banyak makanan dan cetakan buku Yasin yang tersisa. "Aku kalo udah nyusul Bunda nanti, nggak usah dibikin acara begini ya kak," kata Astrid lugu. "Hush. Ngomongmu ini lho, kok waton . Lagian kenapa kamu tiba-tiba ngomong begini?" tanya Sandra keheranan dengan tingkah adiknya. "Enggakpapa sih, ya pokoknya jangan aja," "Kebanyakan gaul sama mereka yang ngelarang ritual 7, 40, 100, 1000 harian ya kamu? Mereka ngomong apa emang kok sampe tiba-tiba langsung ngasih kakak wasiat kayak begitu?" "Hish kakak apaan sih. Bukan perkara gaul sama siapa. Aku ngomong begini karena emang cari tahu teorinya sama lihat realitanya." "Maksu...
sudut pandang, gagasan, dan pikiran receh yang dibekukan dalam tulisan