Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label berbagi pengalaman

Harap Tak (Banyak) Berharap

  Day 3 - Harapan terbesar untuk blog kamu "Don't expect too much, or you will hurt much" begitu kata pepatah. Dasar aku orangnya lagi mencoba sembuh dari masa-masa depresif yak, jadi mohon maap nih kalau aku belum berani juga pasang standar yang gimana-gimana. Tapi, jujur, ikutan #BPNRamadan2021 ini merupakan salah satu caraku untuk healing.  Asal kalian tahu, aku sudah vakum menulis selama satu tahun pasca melahirkan. Selain repotnya mengurus bayi dan rumah tangga, aku juga merasa kehilangan daya dan semangat untuk menulis. Aku hanya bisa berencana membuat kerangka tulisan, tapi pada akhirnya semua itu hanya berakhir pada rencana omong kosong belaka. Aku stres setengah mati. Aku bahkan sudah kehilangan semangat, apakah seumur hidup waktuku akan habis untuk mengurus anak tanpa bisa menulis lagi. Sampai mati. Oh, sungguh, melelahkan sekali dan membosankan setengah mati. Ya Allah Gusti, waktu itu doaku hanya ingin segera menyusul almarhumah ibuku saja saking lelahnya. Akhi...

Ngeblog untuk Cari Duit?

Day 2 - Alasan Mulai Ngeblog Tidak satu atau dua kali saya punya keinginan untuk menjadikan blog saya sebagai ladang untuk menambah penghasilan. Sudah banyak teman-teman saya yang berhasil di bidang ini. Saya akui, mereka memang konsisten untuk mengembangkan diri di bidang blogging hingga bisa berkarir bagus di dunia digital marketing. Kalau dipikir-pikir, saya sebenarnya juga punya potensi yang sama. Saya tidak buruk dalam menulis. Walaupun saya mengaku, saya masih butuh banyak belajar di bidang visual, baik itu desain grafis atau fotografi. Bagian ini sih yang bikin saya sering minder untuk nggak melanjutkan keinginan saya memonetisasi blog saya sebagai lahan cari duit. Saya merasa nggak pinter, atau mungkin kurang gigih belajar di bidang visual.  Huhu, iya aku malesan banget, gaes... Aku akui itu. Tapi pada dasarnya, sejak awal saya bikin blog ini murni untuk bersenang-senang. Saya suka sekali menulis. Tentu saja menuliskan pengalaman, alias curhat! hehe. Walaupun saya ekstrover...

Nama dan Makna

Day 1 - Arti nama blog Dulu sekali, nama blog saya adalah "Bunga Berakar". Terdengar picisan dan sedikit alay ya? Hehehe. Tapi nggakpapa, dulu nama itu kupilih karena diinspirasi dari kawan dekat saat SMP.  Dia pernah berkata kalau bunga itu diibaratkan sebagai perempuan. Akar merupakan bagian dari tumbuhan yang dianggap sebagai tonggak utama. Yang biasanya menguatkan. Jadi ya kira-kira begitu. Bunga berakar merupakan medium saya untuk menulis ketika saya mulai lemah menghadapi kisah kasih kesah kehidupan. Saya merasa harus menjadi sosok perempuan yang kuat. Sehingga ketika saya merasa lelah dan lemah, maka saya menulis, untuk menguatkan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai dikenal dengan nama Muthia Sayekti. Ini nama asli saya, bukan sekedar nama pena. Meskipun ada nama lengkap saya yang lebih panjang, tapi Muthia Sayekti lebih familiar bagi orang banyak. Perlahan... Saya mulai malu menyebut nama bunga berakar lagi. Entah kenapa. Nampak terlalu flowery... Sedangkan kelakua...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (3)

Dengan mengantongi jawaban "iya" dari beliau-beliau, akhirnya saya sampaikan ke mas tersebut. Saya bilang terus terang kalau saya sudah ikut sebuah lingkaran pengajian. Itu artinya, yang hendak menikah dengan saya juga harus "meminta izin" pada guru ngaji saya, bahkan sebelum menghadap orang tua saya. Sehingga, saya utarakan terus terang, "Mas kalau memang mau serius sama aku, silakan ketemu beliau dulu. Kalau beliau kasih izin mas untuk berproses denganku, maka insya Allah aku siap. Kalau nggak, maka untuk selanjutnya hubungan kita hanya bisa diteruskan sebagai teman biasa," lugas, meski tetap menggunakan bahasa kiasan, aku mencoba untuk tidak berbelit. Ia merespon perkataan tersebut dengan nafas panjang. Terbaca betul gestur tubuhnya bahwa ia merasa cukup ribet untuk mendekati saya. Saat itu saya sudah berekspektasi bahwa ia akan menyerah. Dan lagi-lagi saya gagal dalam membuat terkaan. "Oke, insya Allah aku akan segera temui beliau." ...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (2)

Oke, lanjut ya... Dari cerita yang kemarin . Setelah dia menyanggupi, saya justru kelabakan sendiri. Dia menganggap bahwa saya nembak  dia. Padahal kalau boleh jujur, saya suka sama dia saja belum. Ini bukan tentang gengsi atau harga diri, you name it . Tapi kacamata kuda saya saat itu melihat kalau orang ini belum bisa memenuhi kriteria yang saya pasang seperti orang yang saya ceritakan sebelumnya. Mengapa demikian? 1. Awal perkenalan pada obrolan santai, ia mengaku pada saya bahwa ia belum berorientasi untuk menikah dalam waktu dekat. 2. Masih ingin lanjut S3 sambil kerja untuk menyenangkan orang tuanya. 3. Saat itu dia belum menyelesaikan studi masternya, belum berpenghasilan tetap, sementara saya justru sudah bekerja. 4. Pada beberapa pandangan dan tindakan dalam wacana agama, saya belum merasa cocok untuk dipimpin oleh lelaki seperti dia. Saya realistis betul dan bisa mahfum atas pertimbangan tersebut. Oleh karena itu, kalimat saya yang terdengar nanting  itu...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (1)

Setelah sekian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis lagi dalam rangka murni berbagi. Ya, tulisan ini murni saya buat untuk curhat. Dengannya saya sudah cukup siap untuk dicacat sekaligus dihujat. Sebab saya tahu betul, butuh waktu lama bagi saya untuk kembali mengumpulkan tekad menulis dari hati seperti dulu lagi. Yang tak berbumbu teori yang ndakik-ndakik , yang katanya tulisan curhat itu nilainya picisan, tapi justru melegakan, meskipun juga memalukan. Cukup sudah intronya. Langsung saja, saya ingin menulis kegalauan saya tentang pernikahan. Baiklah, saya awali dari sini:  Kalau kalian semua tahu, mungkin juga me nebak, saya mengalami perubahan penampilan sejak tahun 2014 silam. Wacana agama memang melingkupi kehidupan saya sejak ibu saya mangkat. Saya menemukan ketenangan di sana, dan akhirnya saya memutuskan untuk berislam secara totalitas dan tidak lagi setengah-setengah. Kalian boleh bilang hal itu adalah sebuah eskapisme sesaat. Muthia dengan ‘...

My First Official Job

Dalam tulisan saya di Antologi Kisah Birrul  Walidain yang berjudul "Mengeja Cahaya Surga", saya menulis bahwa saya dulu sempat kesal pada setiap tuntutan ibu saya. Banyak hal yang kontra, hingga akhirnya membuat saya tak tahan dan memilih banyak menghindar dengan ibu saya. Beruntungnya sikap menghindar saya masih dituntun oleh Yang Mahakuasa. Di saat-saat terakhir sebelum pergi, ibu saya pernah menyetujui keinginan saya untuk menjadi seorang dosen. Ini merupakan satu titik balik yang membuat saya kian dekat dengan beliau. Terlebih beliau juga bercerita kalau dulu ibu saya sempat bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Waktu berlalu, hingga beliau pergi, dan ketika saya telah lulus S-1, Satu tawaran datang. ...menjadi seorang guru... Kalau pembaca sekalian tahu, atau bahkan kenal dekat dengan saya, maka kalian pasti tahu betapa celelekan -nya saya. Tanpa bermaksud ujub, saya memang dianugerahi kemampuan berbicara di atas rata-rata ( It could be said that I'm c...

Kisah Gelisah Mahasiswa Sasing UNS #1

Teruntuk adik-adik tingkatku Sastra Inggris UNS yang begitu kucintai, tulisan ini kubuat untuk  menyampaikan kegelisahanku selama empat tahun ini. Tulisan ini kuharap juga bisa menyelamatkan masa depanmu dengan belajar dari kesalahanku dan para seniormu yang lebih dulu merasakan pahit manisnya menjadi mahasiswa Sasing. Tulisan ini kubuat setelah mengamati, merenung, dan mencoba mencari celah dari berbagai masalah. Dan dengan tulisan ini pula, kuharap masih ada kesempatan bagiku untuk menyelamatkan generasi selanjutnya. oke, cukup ya prolog melankolisnya. Langsung saja... Adik-adikku yang kusayang, saat kalian dinyatakan diterima sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris, aku percaya kalian tidak merasakan euforia yang sama seperti mahasiswa jurusan lainnya.Tidak seperti mahasiswa baru Fakultas Kedokteran, Ekonomi, atau Komunikasi. Sastra seringnya hanya dianggap jurusan "kelas dua", alias jurusan pilihan kedua. Di saat Osmaru, kalian bisa buktikan sendiri. Berinteraks...

Negeri Visioner - Jenesys 2.0 Batch 11 Mass Media

Memasuki hari ketiga, 25 Februari 2015, seluruh peserta Jenesys 2.0 Batch 11 mendapat kesempatan untuk mengunjungi salah satu museum yang bernama Miraikan. Ini merupakan museum nasional yang menampilkan tekhnologi mutakhir. Lokasinya terletak di Daiba, Tokyo.   Tidak seperti kebanyakan museum yang ada di Indonesia, Miraikan menampilkan sesuatu yang lain dari sudut pandang saya. Sesuai dengan namanya yang berarti “masa depan”, museum ini sama sekali tidak menampilkan hal-hal yang berbau masa lalu. Sekali pun ada, itu hanya secuil dari sekian benda yang dipamerkan.   Beberapa contoh seperti kutipan berikut: Gambar 1 (Atas) : “Message from Le Corbusier – When old ways of doing things leave you stranded, try an approach based on an entirely new concept unconstrained by the old methods and assumptions. ” Gambar 2 (Bawah): ALTERNATIVE CREATIVITY - New ideas unconstrained by traditional values give us the ability to create new things ” K...