Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label my point of view

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (3)

Dengan mengantongi jawaban "iya" dari beliau-beliau, akhirnya saya sampaikan ke mas tersebut. Saya bilang terus terang kalau saya sudah ikut sebuah lingkaran pengajian. Itu artinya, yang hendak menikah dengan saya juga harus "meminta izin" pada guru ngaji saya, bahkan sebelum menghadap orang tua saya. Sehingga, saya utarakan terus terang, "Mas kalau memang mau serius sama aku, silakan ketemu beliau dulu. Kalau beliau kasih izin mas untuk berproses denganku, maka insya Allah aku siap. Kalau nggak, maka untuk selanjutnya hubungan kita hanya bisa diteruskan sebagai teman biasa," lugas, meski tetap menggunakan bahasa kiasan, aku mencoba untuk tidak berbelit. Ia merespon perkataan tersebut dengan nafas panjang. Terbaca betul gestur tubuhnya bahwa ia merasa cukup ribet untuk mendekati saya. Saat itu saya sudah berekspektasi bahwa ia akan menyerah. Dan lagi-lagi saya gagal dalam membuat terkaan. "Oke, insya Allah aku akan segera temui beliau." ...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (2)

Oke, lanjut ya... Dari cerita yang kemarin . Setelah dia menyanggupi, saya justru kelabakan sendiri. Dia menganggap bahwa saya nembak  dia. Padahal kalau boleh jujur, saya suka sama dia saja belum. Ini bukan tentang gengsi atau harga diri, you name it . Tapi kacamata kuda saya saat itu melihat kalau orang ini belum bisa memenuhi kriteria yang saya pasang seperti orang yang saya ceritakan sebelumnya. Mengapa demikian? 1. Awal perkenalan pada obrolan santai, ia mengaku pada saya bahwa ia belum berorientasi untuk menikah dalam waktu dekat. 2. Masih ingin lanjut S3 sambil kerja untuk menyenangkan orang tuanya. 3. Saat itu dia belum menyelesaikan studi masternya, belum berpenghasilan tetap, sementara saya justru sudah bekerja. 4. Pada beberapa pandangan dan tindakan dalam wacana agama, saya belum merasa cocok untuk dipimpin oleh lelaki seperti dia. Saya realistis betul dan bisa mahfum atas pertimbangan tersebut. Oleh karena itu, kalimat saya yang terdengar nanting  itu...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (1)

Setelah sekian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis lagi dalam rangka murni berbagi. Ya, tulisan ini murni saya buat untuk curhat. Dengannya saya sudah cukup siap untuk dicacat sekaligus dihujat. Sebab saya tahu betul, butuh waktu lama bagi saya untuk kembali mengumpulkan tekad menulis dari hati seperti dulu lagi. Yang tak berbumbu teori yang ndakik-ndakik , yang katanya tulisan curhat itu nilainya picisan, tapi justru melegakan, meskipun juga memalukan. Cukup sudah intronya. Langsung saja, saya ingin menulis kegalauan saya tentang pernikahan. Baiklah, saya awali dari sini:  Kalau kalian semua tahu, mungkin juga me nebak, saya mengalami perubahan penampilan sejak tahun 2014 silam. Wacana agama memang melingkupi kehidupan saya sejak ibu saya mangkat. Saya menemukan ketenangan di sana, dan akhirnya saya memutuskan untuk berislam secara totalitas dan tidak lagi setengah-setengah. Kalian boleh bilang hal itu adalah sebuah eskapisme sesaat. Muthia dengan ‘...

Jangan Kesusu Kuliah S2

"Orang-orang pemberani yang berbekal rasa takut, itulah bentuk kehati-hatian. Sedangkan orang yang sebenarnya penakut tapi berbekal keberanian itulah yang dinamakan nekad. ... Kepada si pemberani, ketakutan mengajarkan bahwa keberanian yang cuma berujung bahaya, adalah ketololan," Prie GS. Santailah kawan. Santai yang bukan untuk berleha-leha. Baik pencapaian maupun proses memang tidak harus selalu merujuk pada yang orang lain mau. Selo awake , bukan berarti selo pikire . Jangan yang kamu kira tidak berleha-leha fisiknya menandakan bahwa otak dan hatinya juga tidak bekerja. Bukan berarti mereka yang tidak langsung kuliah S2 kualitas ilmunya hanya segitu-segitu saja. Jangan karena dia lulusan S2 dan kemudian jadi ibu rumah tangga lalu kau anggap percuma kuliah. Bukan karena si X atau si Y dengan IPK tinggi lalu jadi pedagang, atau sekedar baca buku dan menulis di rumah lalu kau anggap ijazah dan ilmunya selama kuliah itu sia-sia. Oh, ...

Definisi Mandiri

Mandiri, berdikari, merdeka. Ketiga kata tersebut selalu merujuk pada makna positif yang selalu dibanggakan semua orang. Tapi independensi yang diagungkan banyak orang itu seringkali tidak diimbangi dengan kesiapan mereka untuk berjuang sendirian. Hari ini saya belajar dari perjuangan seorang Lantip alias Wage yang berada dalam kisah Para Priyayi yang ditulis oleh Umar Kayyam. Sejak kecil ia tak tahu siapa ayahnya. Ia tumbuh sebagai anak penjual tempe yang begitu miskin. Namun nasibnya beruntung karena seorang priyayi yang menjabat menjadi seorang guru berkenan untuk merawat, membesarkan, serta menyekolahkannya ke pendidikan yang lebih tinggi. Namun keberuntungannya tersebut harus ia syukuri di balik pahitnya hidup sendiri karena saat ia beranjak remaja, ibunya pun turut berpulang. Hidup seorang Lantip begitu keras. Sama juga seperti Rasulullah. Beliau SAW sejak kecil juga telah menjadi yatim piatu. Bahkan amanahnya sebagai seorang utusan Tuhan bukanlah perkara yang main-main. ...

Egois

Aku tidak ingin mendeklarasikan diri sebagai sosok yang idealis Sebab aku begitu paradoks jika harus turun ke lapangan realita Idealitasku begitu mudah beramah tamah dengan keadaan sedangkan aku tidak bisa memaksakan kehendak, jika aku tidak mampu mengalahkan kenyataan Kamu tahu? Mimpi-mimpiku sebenarnya sederhana saja Tapi aku ter-nurture untuk menjadi sesuatu yang sederhana tapi lain dari yang lainnya. Itu idealitasku yang sebenarnya Itu yang menjadi ekspektasiku saat ini. Tapi aku tidak bisa hidup di atas mimpi-mimpiku sendiri. Ada banyak orang yang berharap banyak tentangku Dan akhirnya aku harus beramah tamah untuk hidup dalam ekspektasi mereka Jiwa ini harus berlapang dada, bahwa aku harus mengikuti saran mereka... menjadi sosok yang mereka inginkan yang mimpi-mimpinya setinggi langit, tidak sederhana, tapi terlalu mainstream untuk kulakukan sebab aku tidak bisa menjadi orang yang idealis di mataku, orang yang idealis sesekali terlihat egois. dan aku... tida...

Shinkansen Bekas di Indonesia

Saat melihat Subway dan Shinkansen yang ada di Jepang, seketika saya teringat pada tulisan Anif Punto yang dibukukan dengan judul “Negara Kuli”. Kalau tak salah ingat, salah satu tulisannya menyebutkan bahwa negeri kita tercinta ini merupakan Negara yang penuh dengan barang rongsokan , alias barang bekas.   Ini terbukti di berbagai aspek teknologi yang ada di Indonesia. Salah satu contohnya adalah KRL Commuter Line yang ada di daerah Jabodetabek saat ini. Bagi yang tidak berdomisili dan tinggal di sana, mungkin belum pernah merasakan transportasi umum ini. Tapi sekedar informasi saja, KRL yang kini begitu vital bagi warga Jakarta dan sekitarnya ini memang di- import dari Jepang. Impor yang dimaksud di sini tidak serta merta Jepang memproduksi gerbong-gerbong baru untuk selanjutnya dibeli oleh Indonesia. Tidak, tidak seperti itu. Keuangan Indonesia tidak mampu membeli yang baru. Sehingga, subway yang sudah tidak layak pakai di Jepang akan diekspor ke Indonesi...

Negeri Visioner - Jenesys 2.0 Batch 11 Mass Media

Memasuki hari ketiga, 25 Februari 2015, seluruh peserta Jenesys 2.0 Batch 11 mendapat kesempatan untuk mengunjungi salah satu museum yang bernama Miraikan. Ini merupakan museum nasional yang menampilkan tekhnologi mutakhir. Lokasinya terletak di Daiba, Tokyo.   Tidak seperti kebanyakan museum yang ada di Indonesia, Miraikan menampilkan sesuatu yang lain dari sudut pandang saya. Sesuai dengan namanya yang berarti “masa depan”, museum ini sama sekali tidak menampilkan hal-hal yang berbau masa lalu. Sekali pun ada, itu hanya secuil dari sekian benda yang dipamerkan.   Beberapa contoh seperti kutipan berikut: Gambar 1 (Atas) : “Message from Le Corbusier – When old ways of doing things leave you stranded, try an approach based on an entirely new concept unconstrained by the old methods and assumptions. ” Gambar 2 (Bawah): ALTERNATIVE CREATIVITY - New ideas unconstrained by traditional values give us the ability to create new things ” K...