Langsung ke konten utama

Kopi VS Es Krim


Ketika orang lain menyukai kopi,
aku lebih suka es krim

sehangat dan semanis apa pun secangkir kopi pada awalnya,
pasti masih menyisakan ampas yang hitam, pekat, dan pahit pada akhirnya

sedingin apa pun es krim hingga membuat gigimu linu pada awalnya
pasti akan ada rasa manis yang tersisa dan membaikkan suasana hatimu pada akhirnya

ku ibaratkan kopi ini adalah Mr. X
dan es krim di sini dengan Mr. Y

ketika aku terlibat dalam sebuah percakapan dengan si kopi dan si es krim, aku mencoba membuat perbandingan, dan perbandingan itu tampak nyata.

Percakapan dengan si kopi terasa begitu hangat, terlebih dengan kata-kata manis yang ditawarkan dari si kopi. Terlebih jika ia menambahkan susu dan float di atasnya. Tapi setelah kopi ku hisap perlahan, makin lama aku makin terasa aneh, perutku semakin kembung dan kepalaku juga semakin pusing karena kafeinnya, semacam percakapan yang dibumbui bualan, rasa yang dilebih-lebihkan, dan kepura-puraan yang menghangatkan di awal tapi malah membuat susah tidur semalaman.

Ya seperti itulah gambaranku dengan secangkir kopi.
Namun di sisi lain aku merasakan hal yang berbeda dengan si es krim

Aku sentuh wadahnya saja sudah dingin, apalagi jika sudah menempel di lidahku dan kemudian menyerang gigiku yang kadang bisa membuatnya linu sementara. Dinginnya es krim persis dengan peercakapan yang ku rasakan bersama Mr. Y, cenderung terlihat tidak mempedulikan, acuh, dan lama memberikan tanggapan. Tapi setelah lama ku telaah, es krim tidak benar-benar dingin. Dia manis, lembut, dan begitu mudah lumer di lidahku, memberi rasa nyaman seakan membawaku ke mood yang lebih baik. Sikap dinginnya di awal sekejap terbayar dengan segala kata-katanya yang tenang dan lembut hingga bisa membawaku ke dalam rasa nyaman untuk jauh tenggelam dalam percakapan selanjutnya hingga suapan es krim terakhir ku habiskan

Lucu ya?

Tapi itu menurutku, mungkin bagi mereka pecinta kopi pastilah punya pendapat dan analogi yang berbeda. Itu sah dan biasa. Setidaknya kesukaanku pada es krim, bisa ku terapkan dalam memilih lawan bicara, teman curhat, atau mungkin pasangan? Who knows...? ;)

Komentar

  1. pada akhirnya tetap teh hangat lah yg lebih dewasa, atau coba aja jus jeruk, ceria dan sensasional. Atau susu coklat, raja dari semua minuman susu :D

    BalasHapus
  2. analogimu untuk teh hangat sama jus jeruk bisa jadi masukan, mas...
    nah sekarang kalo analoginya susu coklat? emmm *mikir :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Info Harga Sewa Gedung Pernikahan (Venue for Wedding Package) di Semarang

Halo, semuanya... Lokasi Alam Indah Resto - dok. pribadi Jumat ini rasanya saya agak buntu ingin menulis apa. Akhirnya saya membuka sebuah forum pertanyaan di IG Story untuk mencari inspirasi, kira-kira tema apa yang menarik untuk saya ulas di blog pekan ini. Beberapa merekomendasikan untuk menulis hal-hal yang sifatnya personal. Ada juga yang menyarankan saya untuk menulis beberapa tema terkait masalah psikologi (mungkin karena dua buku yang saya tulis isu sentralnya psikologi populer ya hehe). Tapi, akhirnya hati saya kok malah condong menulis ini... Hehehe... Sekalian sharing  saja sih. Saya memang sedang mempersiapkan pernikahan. Pun, untuk urusan perkuliahan, saya kebetulan juga concern  untuk meneliti dunia industri pernikahan. Jadi, ya sekali tepuk bolehlah 3-4 urusan bisa diselesaikan. Mohon doanya ya semoga semuanya lancar dan segala sesuatunya dipermudah. Semoga juga nggak ada yang julid doain yang jelek-jelek.. hihi ups... *istighfar* Jadi di sini, ...

Miyago Pak Joko - Rekomendasi Pecinta Mie Ayam di Semarang

Kalau teman-teman termasuk mie ayam holic kayak saya, nih... saya minggu lalu baru saja jajan ke Mie Ayam Goreng alias Miyago di warung Pak Joko. Lokasinya di daerah Banyumanik. Jadi kalau kalian sering ke daerah Semarang atas, dan sliwar-sliwer mau ke arah tol dan lewat Jalan Durian, coba deh mampir ke sini. sumber: dokumentasi pribadi Tidak seperti mie ayam kebanyakan yang disajikan dengan kuah, mie ayam ini hadir tanpa kuah sama sekal. (Ya iyalah ya... namanya juga mie ayam goreng. hehehe). Eh, tapi di sini juga menyediakan mie ayam yang kuah kok. Cuma... ya... menurutku mie ayam kuahnya kurang begitu enak. Kayak kurang asin gitu, hambar, kalo orang Semarang bilang anyep. Jadi, kalau kalian mampir ke sini, saran saya sih pesan miyago-nya saja. Rasanya kayak gimana sih? Jadi, main taste  dari miyago ini lebih ke gurih. Tidak dominan manis kecap seperti bakmie jawa yang beredar tiap malam di depan rumah. Sama seperti makan mie instan, tapi lebih gurih. Saya pikir awa...

Konsep Suguhan Pernikahan dan Segala Resikonya

Beberapa hari yang lalu, saya merasa tersentil dengan komik singkat karya mas Dody YW yang diunggah melalui fanspage FB-nya " Goresan Dody ". Jujur, saya merasa tersentil sekaligus baper. Memang apa sih isi komiknya? Nih, berikut media komiknya saya lampirkan: Adab Makan sambil Duduk credits: FP Goresan Dody Sebagai individu yang sejak lahir di Semarang sampai lulus SMA, saya memang lebih familiar dengan konsep pernikahan yang menyuguhkan hidangan secara prasmanan. Para tamu disetting untuk antre makanan dan setelah dapat harus berdiri sambil berdesak-desakan untuk makan. Apakah tidak ada kursi? Biasanya ada, tapi jumlahnya hanya 1/10 dari jumlah undangan yang hadir. Berbeda dengan konsep pernikahan yang ada di Solo Raya (Sukoharjo, Klaten, Wonogiri, Karanganyar, Sragen), pernikahan dengan cara piring terbang masih mudah untuk ditemui. Meskipun beberapa ada yang sudah beralih dengan menggunakan konsep prasmanan, tetapi piring terbang masih jadi andalan. Pola menuny...