Langsung ke konten utama

Postingan

Hari Menulis

Solo, 14 Juni 2013 Hari Jumat penuh berkah yang diawali dengan presentasi materi essay untuk sebuah lomba tingkat fakultas di kampus. Sebutlah lomba itu dengan nama OMASS yang merupakan akronim dari Olimpiade Mahasiswa Sastra Seni Rupa yang setiap tahunnya diselenggarakan di kampusku. Tahun lalu saya hanya mengikuti lomba Draft PKM, namun hanya berbuah sertifikat sebagai peserta. Namun alhamdulillah tahun ini, saya berkesempatan untuk mengikuti dua lomba sekaligus yaitu essay dan PKM sekaligus bisa menjadi juara II di lomba essay. Tulisan yang saya kirimkan sebenarnya masih jauh dari kata sempurna. Juri pun memberikan masukan bahwa EYD yang saya gunakan masih banyak yang perlu diperbaiki. Penggunaan kutipan dalam penulisan pun juga masih perlu direvisi. Selain itu, saya pribadi juga merasa bahwa ide yang saya sampaikan belum terlalu objektif dan bermanfaat bagi para pembaca. Sehingga, predikat juara II itu lebih dan kurangnya masih saya jadikan cambuk untuk lebih termotivasi dala...

Mahasiswa dan Beasiswa

Menjadi seorang mahasiswa sering kita kaitkan dengan biaya kuliah yang mahal baik saat awal masuk maupun SPP setiap semesternya. Namun, masalah ini sering terselesaikan dengan keberadaan beasiswa yang ditawarkan baik dari pemerintah maupun swasta, baik karena prestasi maupun ketidakmampuan orang tua dalam hal finansial. Sering terselesaikan bukan berarti tidak menimbulkan masalah baru. Seperti kita tahu bahwa masalah "beasiswa salah sasaran" masih sering kita dengar di sekitar kita. Salah sasaran yang dimaksud di sini bisa ditinjau dari sisi persepsi. Contohnya, penerima beasiswa untuk kategori tidak mampu ternyata malah didapatkan oleh mereka yang gaya hidupnya tidak bisa dibilang seperti orang tidak mampu. Bukankah tidak jarang kita menemukan para penerima beasiswa semacam itu di sekitar kita? Akhirnya, kecemburuan, kecurigaan, dan gunjingan seperti mengalir begitu saja dengan mudahnya. Permasalahan menyangkut penerima beasiswa untuk kategori tidak mampu memang terdenga...

Last Destination vs Rest Area

Perjalanan Panjang Bertepatan dengan long weekend minggu lalu, aku baru saja menghabiskan waktu bersama keluarga dengan melalui perjalanan dari Semarang-Jogja-Bandung-Jakarta dan akhirnya dari Jakarta kami berpisah. Kakakku ada yang tetap di Jakarta, pulang ke Semarang, Jogja, dan aku sendiri langsung kembali ke Solo. Ketika perjalanan kami berlangsung dari Bandung menuju ke Jakarta yang melewati Tol Cipularang membuatku terinspirasi untuk membuat analogi (lagi). Di tengah perjalanan, tepatnya di KM 97 kami sempat berhenti di tempat peristirahatan yang biasa disebut dengan Rest Area. Kakakku sengaja memilih rest area di KM 97 karena di sana masjidnya besar dan pemandangan yang bisa dilihat dari masjid tersebut memang benar-benar indah. Selain itu, pilihan makanan yang tersaji di sana pun beraneka macam dengan SPBU yang cukup banyak sehingga tidak perlu mengantre terlalu panjang. Dengan segala kenyamanan yang ada di rest area tersebut, aku hampir saja lupa bahwa perjalanan masih ...

Craig David - Don't Love You (I'm Sorry)

check this out ;) enjoy! you made it clear when you say,"I just don't love you no more," :')

Random

They ever said to me,"you deserve what you've served," I simply believe it and... I've tried to serve anything that I can, but then what did I deserve? Nothing than pain (again) Kamu bilang kamu sudah mencoba, lalu kamu mengaku bahwa nyatanya kamu gagal... Kamu pikir aku juga tidak dalam proses mencoba? Kamu pikir mudah bagiku untuk berpindah hati dan akhirnya bisa menerimamu mencoba mencintaimu tanpa menargetkan apa pun, selain balasan yang sama Nyatanya aku salah Kamu terlalu mudah menyerah, yasudah... Toh ini bukan pertama kalinya bagiku Ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya After all, you've made me learn about loving someone without expectation, and How to differentiate between reality and drama... You had been my chapter of my story although I'd never been your favorite song to be sung Solo, 25 Maret 2013 DNMS

Perlukah Berlangganan TV Kabel?

oleh: Devi Nirmala Muthia Sayekti Tulisan ini saya buat karena saya melihat sedikit perubahan fenomena yang saya llihat sendiri akhir-akhir ini. Bagi sebagian orang, berlangganan TV kabel bukan lagi hal yang mewah. Saya bisa membuat pernyataan ini setelah saya meninjau beberapa rumah (dari beberapa teman) yang mana mereka tergolong sebagai keluarga dengan kelas menengah pun juga bisa berlangganan TV kabel. Padahal jika kita melihat mundur lima sampai 10 tahun yang lalu, berlangganan TV kabel hanya bisa dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke atas yang rumahnya berada di perumahan elite real estate. Bisnis parabola TV satelit semakin menjamur. Merknya semakin beragam, channel yang ditawarkan pun semakin banyak, mereka berlomba-lomba untuk memberikan penawaran pilihan saluran TV yang beraneka ragam dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Sehingga tidak heran jika jumlah pelanggan TV kabel pun meningkat setiap tahunnya. Seperti contoh berita ini : Pelanggan TelkomVision ...

Resensi Novel "Refrain" by Winna Efendi

picture is taken from: http://yustieamanda.blogspot.com/2012/11/refrain.html Judul buku: Refrain Penulis: Winna Efendi Penerbit: Gagas Media Kalau salah satu dari kalian merupakan penggemar dari penyanyi solo Afgansyah Reza maka judul novel ini mungkin tidak asing bagi kalian. Ya, novel yang ditulis oleh Winna Efendi ini memang akan segera tayang di layar lebar dengan pemain utama yang diperankan oleh Afgansyah Reza atau sering disapa Afgan dan Maudy Ayunda yang akhir-akhir ini namanya sedang naik daun seiring dengan suksesnya film "Perahu Kertas" di tahun 2012. Bagi sebagian orang termasuk saya mungkin sebelumnya merasa sedikit asing dengan judul novel "Refrain" dan nama penulisnya "Winna Efendi". Entah karena saya yang mungkin kurang up to date dalam dunia sastra Indonesia atau mungkin karena memang semakin menjamurnya penulis fiksi ringan akhir-akhir ini mengingat bahwa fenomena saat ini untuk menerbitkan novel tidak lagi sesulit jaman WS Rend...