Langsung ke konten utama

Postingan

Info Harga Sewa Gedung Pernikahan (Venue for Wedding Package) di Semarang

Halo, semuanya... Lokasi Alam Indah Resto - dok. pribadi Jumat ini rasanya saya agak buntu ingin menulis apa. Akhirnya saya membuka sebuah forum pertanyaan di IG Story untuk mencari inspirasi, kira-kira tema apa yang menarik untuk saya ulas di blog pekan ini. Beberapa merekomendasikan untuk menulis hal-hal yang sifatnya personal. Ada juga yang menyarankan saya untuk menulis beberapa tema terkait masalah psikologi (mungkin karena dua buku yang saya tulis isu sentralnya psikologi populer ya hehe). Tapi, akhirnya hati saya kok malah condong menulis ini... Hehehe... Sekalian sharing  saja sih. Saya memang sedang mempersiapkan pernikahan. Pun, untuk urusan perkuliahan, saya kebetulan juga concern  untuk meneliti dunia industri pernikahan. Jadi, ya sekali tepuk bolehlah 3-4 urusan bisa diselesaikan. Mohon doanya ya semoga semuanya lancar dan segala sesuatunya dipermudah. Semoga juga nggak ada yang julid doain yang jelek-jelek.. hihi ups... *istighfar* Jadi di sini, ...

Review Buku "Rules of Love" by Esty Dyah Imaniar - Sebuah Panduan Cinta Anti Baper (Katanya)

Sejak kapan kepentingan tentang "cinta" perlu ada panduannya? Memang siapa Esty kok berani-beraninya menulis panduan tentang cinta yang berbumbu disclaimer  "NO BAPER BAPER CLUB"? Pacaran saja belum tidak pernah. Patah hati saja belum punya (banyak) pengalaman. Kok bisa-bisanya menulis buku, judulnya "Rules of Love". Ckckck... Bagi sebagian kalangan, topik tentang cinta memang sesempit dunia relasi antara dua manusia berbeda lawan jenis yang memiliki ketertarikan rasa. Padahal, "cinta" bagi orang-orang seperti mba Esty (dan juga saya) memiliki makna yang lebih universal. Cinta kepada sesama manusia tentunya, tapi tidak selalu berkutat pada pasangan. Juga cinta kepada makhluk hidup lain yang ada di dunia ini sebagai bentuk ciptaan-Nya. Saya memang pernah jadi bucin alias budak cinta. Gagal berelasi dengan seseorang, hmm ya beberapa orang sih tapi yang membekas betul hanya seorang (eh tapi bukan berarti saya belum move on lho ya), hingg...

Miyago Pak Joko - Rekomendasi Pecinta Mie Ayam di Semarang

Kalau teman-teman termasuk mie ayam holic kayak saya, nih... saya minggu lalu baru saja jajan ke Mie Ayam Goreng alias Miyago di warung Pak Joko. Lokasinya di daerah Banyumanik. Jadi kalau kalian sering ke daerah Semarang atas, dan sliwar-sliwer mau ke arah tol dan lewat Jalan Durian, coba deh mampir ke sini. sumber: dokumentasi pribadi Tidak seperti mie ayam kebanyakan yang disajikan dengan kuah, mie ayam ini hadir tanpa kuah sama sekal. (Ya iyalah ya... namanya juga mie ayam goreng. hehehe). Eh, tapi di sini juga menyediakan mie ayam yang kuah kok. Cuma... ya... menurutku mie ayam kuahnya kurang begitu enak. Kayak kurang asin gitu, hambar, kalo orang Semarang bilang anyep. Jadi, kalau kalian mampir ke sini, saran saya sih pesan miyago-nya saja. Rasanya kayak gimana sih? Jadi, main taste  dari miyago ini lebih ke gurih. Tidak dominan manis kecap seperti bakmie jawa yang beredar tiap malam di depan rumah. Sama seperti makan mie instan, tapi lebih gurih. Saya pikir awa...

Perawatan Rambut Berhijab - Anti Kusut, Lepek, dan Rontok ala Muthia Sayekti

Rambut yang tertutup memang sering bikin jadi gampang lepek, kusut, dan yang pasti rontok. Alhamdulillah setahun belakangan, ketiga masalah itu sudah bisa kuatasi dengan baik. Penasaran gimana caranya? Yuk, kita bahas bareng di sini. sumber: dok. pribadi Muthia Sayekti Kalau aku berselancar di linimasa media sosial, sering aku jumpai teman-teman di sekitarku yang mengeluh dengan permasalahan rambut mereka, terutama bagi teman-teman muslimah yang berhijab. Masalah-masalah yang mereka hadapi paling banyak adalah kerontokan. Bahkan tidak sedikit yang rontoknya sudah kronis. Disisir sedikit langsung mbrodol , sampai ada yang cerita kalau rambut rontok mereka bisa bikin saluran pembuangan di kamar mandi mudah tersumbat. Makanya ada beberapa kawan yang jadi malas menyisir rambut, yang efeknya jadi gampang kusut. Hmm... kompleks ya. Ada pula yang mengeluh kalau rambutnya sering lepek dan berminyak. Ya, kalau bagian ini aku sendiri tidak bisa menafiki sih... karena memang kita t...

[Review Buku] Merasa Beruntung Menjadi Minoritas - Moddie AW

Kalau kalian suka baca-baca esai yang lucu dan nakal, serta sarat akan sentilan yang santun, maka saya sarankan untuk tidak terlewat membaca buku ini. sumber: dok. pribadi oleh Muthia Sayekti Dulu, saat masyarakat masih dekat dengan koran sebagai media massa, orang-orang biasa menemukan kolom-kolom khusus yang diperuntukkan bagi para kritikus untuk membuat tulisan yang ringan-berbobot dan memiliki daya gelitik yang tajam. Sebutlah mereka kolumnis. Ada beberapa nama penulis kolumnis senior yang bukunya sudah saya cicipi, seperti Sudjiwo Tedjo, Butet Kertaradjasa, dan yang pasti Umar Kayam (karena beliau adalah idola saya hehe).  Nama-nama tersebut adalah orang-orang yang dikenal sebagai budayawan yang gemar melontarkan gagasannya dalam tulisan yang jenaka. Lelucon mereka sering disebut sebagai bentuk kritik kepada orde yang sedang berkuasa, atau pada isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan. Semuanya dibahas dengan menggunakan pilihan kata yang familiar didengar ol...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (3)

Dengan mengantongi jawaban "iya" dari beliau-beliau, akhirnya saya sampaikan ke mas tersebut. Saya bilang terus terang kalau saya sudah ikut sebuah lingkaran pengajian. Itu artinya, yang hendak menikah dengan saya juga harus "meminta izin" pada guru ngaji saya, bahkan sebelum menghadap orang tua saya. Sehingga, saya utarakan terus terang, "Mas kalau memang mau serius sama aku, silakan ketemu beliau dulu. Kalau beliau kasih izin mas untuk berproses denganku, maka insya Allah aku siap. Kalau nggak, maka untuk selanjutnya hubungan kita hanya bisa diteruskan sebagai teman biasa," lugas, meski tetap menggunakan bahasa kiasan, aku mencoba untuk tidak berbelit. Ia merespon perkataan tersebut dengan nafas panjang. Terbaca betul gestur tubuhnya bahwa ia merasa cukup ribet untuk mendekati saya. Saat itu saya sudah berekspektasi bahwa ia akan menyerah. Dan lagi-lagi saya gagal dalam membuat terkaan. "Oke, insya Allah aku akan segera temui beliau." ...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (2)

Oke, lanjut ya... Dari cerita yang kemarin . Setelah dia menyanggupi, saya justru kelabakan sendiri. Dia menganggap bahwa saya nembak  dia. Padahal kalau boleh jujur, saya suka sama dia saja belum. Ini bukan tentang gengsi atau harga diri, you name it . Tapi kacamata kuda saya saat itu melihat kalau orang ini belum bisa memenuhi kriteria yang saya pasang seperti orang yang saya ceritakan sebelumnya. Mengapa demikian? 1. Awal perkenalan pada obrolan santai, ia mengaku pada saya bahwa ia belum berorientasi untuk menikah dalam waktu dekat. 2. Masih ingin lanjut S3 sambil kerja untuk menyenangkan orang tuanya. 3. Saat itu dia belum menyelesaikan studi masternya, belum berpenghasilan tetap, sementara saya justru sudah bekerja. 4. Pada beberapa pandangan dan tindakan dalam wacana agama, saya belum merasa cocok untuk dipimpin oleh lelaki seperti dia. Saya realistis betul dan bisa mahfum atas pertimbangan tersebut. Oleh karena itu, kalimat saya yang terdengar nanting  itu...