Langsung ke konten utama

Postingan

(Un)Fairy Tale #21 - Ayah Mulai Beraksi

Sepulangnya Hanung ke kotanya, Astrid jadi tambah sering melamun. Ia merasa keheranan dengan sikap agresif yang mulai dimunculkan oleh Hanung akhir-akhir ini. Bukan karena ia tak suka, tapi karena ia lebih merasa curiga. Tiba-tiba ponsel Astrid yang berdering pun memecahkan lamunannya. Ayahnya menelepon dan tanpa pikir panjang, ia pun segera mengangkat teleponnya. "Hallo... Assalamualaykum..." kata Astrid menyapa. "Waalaykumsalam. Lagi dimana dek?" "Ini baru nyampe kost, Yah. Ada apa?" "Kok jam segini baru nyampe kost? Rapat? Apa maen?" tanya Ayah dengan sedikit curiga. "Maen kok, Yah." jawab Astrid jujur. Ia memang terbiasa untuk terbuka pada orang tuanya daripada harus berbohong dan membuat khawatir lalu menimbulkan curiga yang berkepanjangan. "Ayah, Hanung tadi ke sini..." "Oh, maennya sama Hanung." "Sebentar, Yah... Ceritanya belum selesai" "Hehehe iya iya... Lanjutin. Ada apa kok...

(Un)Fairy Tale #20 - Dibayar dengan Kepastian

"Itu tadi temen deket kamu?" tanya Hanung ketika mobilnya sudah mulai melaju meninggalkan tempat makan dimana mereka bertemu dengan Ifa dan pacarnya. Hanung merasa ada keanehan dari cara Ifa memandangnya. Ia seperti mencium aroma ketidaksukaan Ifa padanya. Tapi karena Astrid terlalu lurus dan sama sekali tidak menaruh curiga pada temannya, ia pun mencoba untuk mendinginkan api kecurigaan Hanung pada Ifa. "Iya lumayan deket, sekelas juga sih. kenapa gitu?" "Kayaknya kok agak gimana gitu ya sama aku. Atau perasaanku aja ya?" Hanung menaruh curiga. "Gimana gitu gimana maksudnya?" tanya Astrid heran. "Ya agak nggak suka gitu sih keliatannya. Senyum sih, tapi kerasa beda aja ngeliatnya." "Ah, dia emang gitu. Wajahnya emang agak jutek kalo belum kenal. Santai, orangnya baik banget kok. Tampangnya doang itu yang jutek, atinya melankolis banget padahal. Hahaha." "Masa sih? Hahaha. Kok bisa gitu?" Lalu Astrid...

(Un)Fairy Tale #19 - Debat di Telepon

"Halo, nek. Aku lagi makan sama Daniel, ngeliat Astrid sama Hanung lagi jalan bareng di sini... Ini pasti ada yang nggak beres..." Sementara di seberang sana, Karin seperti sayup-sayup mengangkat telepon dari Ifa dengan bermalas-malasan. Karin yang tengah terlelap tidur untuk balas dendam setelah lembur layaknya Bandung Bondowoso yang membuat seribu candi untuk Roro Jonggrang pun menanggapi cerita Ifa sekenanya. "Hmm... Astrid? Jalan? Sama Hanung? Siapa tuh? Hoaamhh..." jawab Karin sambil menguap dan mengucek-ngucek matanya. "Aduh... Bangun dulu dong, woy. Melek! Aku lagi cerita serius nih." "Iya, ini udah bangun tapi belum melek. Tapi aku denger kok. Hanung itu siapa? Gebetan barunya Astrid? Hoaaammh~" kata Karin yang berusaha menanggapi cerita Ifa dengan serius. Karin yang setengah sadar memang seperti lupa siapa Hanung, orang yang sudah sering diceritakan Astrid, seseorang yang datang dari masa lalunya. "Duduk dulu deh. Aku be...

(Un)Fairy Tale #18 - Ketahuan

"Eh... emm, nggakpapa kok... Jadi gini, aku ke Solo karena...." Hanung mencoba untuk menjawab pertanyaan Astrid, tiba-tiba... "Permisi mas, pesenannya..." Raut muka serius Hanung seketika menjadi buyar akan distraksi dari mas-mas pemilik warung makan yang sedang mengantar pesanan itu. Astrid yang sudah menerima makanannya seketika langsung mengicipi hidangan yang ada di hadapannya perlahan. Hanung melihatnya sambil tersenyum. "Kelaperan ya kamu?" kata Hanung sambil menggoda. "Enggak sih, biasa aja. Buruan ih dilanjutin." kata Astrid mengingatkan Hanung untuk melanjutkan ceritanya. "Ah, sial. Ternyata Astrid memang tidak mudah untuk dialihkan perhatiannya." "Oh, gini. Aku ke Solo karena ke depannya aku bakal lebih sering lagi ke Solo," "Kok gitu? Mau ngapain emang?" "Aku udah dapet bocoran dari Abah, setelah wisuda S.Ked. nanti, aku mau ditempatin di sini untuk co-ass . Jadi, selama setengah tahun a...

(Un)Fairy Tale 17 - Alasan Pertemuan

Melihat jari manis Astrid yang sudah terlingkari cincin, seketika Hanung langsung meraba sesuatu di sakunya. Seperti tidak ingin malu, ia memutuskan untuk kembali ke mobil dan meletakkan barang yang sudah dikantunginya sejak perjalanan dari rumahnya tadi pagi. "Mau kemana, Nung?" tanya Astrid keheranan. "Aku ke mobil sebentar ya, mau ambil power bank ." Sesampainya di mobil, ia segera membuka dashboard bukan untuk mengambil sesuatu, tetapi malah meletakkan sesuatu. "Mungkin aku sudah terlambat," kata Hanung dalam hati sambil meletakkan kotak cincin berbentuk hati dengan sebuah cincin emas putih di dalamnya. Sambil ia letakkan kotak cincin itu, Hanung mencoba untuk mengontrol diri agar tidak terlalu menunjukkan raut muka tidak bahagia. Ia berusaha untuk bersikap senatural mungkin di depan Astrid, seolah tidak terjadi apa-apa. "Lhoh, katanya mau ambil power bank ?" Astrid terus bertanya keheranan melihat tidak ada power bank di tangan Hanu...

(Un)Fairy Tale #16 - Penyesalan Hanung

Hanung melihat sosok perempuan yang lebih anggun dari sosok yang ia temui dua tahun yang lalu. Pertemuan terakhir yang sebenarnya tidak memberi arah kepastian pada keduanya, entah harus berpisah atau tetap bersama. Yang ia ingat, dua tahun yang lalu, ia telah membuat seorang perempuan yang dulu begitu ia cintai berlinang air mata di hadapannya. Karena ketidaksetiaannya, karena ketidakpastiannya. "Aku sayang kamu, Hanung." begitu jelas ingatannya ketika Astrid mengiba dan berkata bahwa Astrid begitu mencintainya. Sambil berlinang air mata, Astrid mencoba untuk mengiba, meminta kepastian, menuntut kesetiaan. Kehadiran bidadari lain yang ada di sekitarnya membuat Hanung berhasil menciptakan kecewa di hati perempuan yang dicintainya. "Aku tahu." hanya itu yang bisa Hanung katakan. Tidak ada kalimat 'Aku pun menyayangimu' atau sejenisnya dari mulut Hanung di pertemuan terakhir itu. Ia merasa di persimpangan jalan. Ia butuh kehadiran, Astrid tidak mampu member...

(Un)Fairy Tale #15 - Senyum Yang Sama Seperti Pertemuan Pertama

Jumat yang melelahkan, sama seperti hari lainnya. Walaupun konon katanya Jumat adalah 'hari pendek', Astrid tetap saja sibuk seperti hari-hari lainnya. Ia bahkan hampir lupa bahwa ia memiliki janji dengan seseorang. "Halo, Assalamualaykum..." kata Astrid membuka percakapan di telepon sambil menyandarkan punggungnya di tembok mushola. Ia asal saja mengangkat telepon tanpa terlebih dulu melihat siapa peneleponnya. "Wa'alaykumsalam. Lagi dimana, Trid?" Astrid yang sedang mengatur nafas, baru menyadari bahwa Hanung yang meneleponnya. Seketika ia melihat arlojinya, masih pukul 11.15. "Eh, kamu. Aku masih di kampus nih. Gimana?" "Oh, ya udah. Kamu habis ini udah nggak ada kegiatan kan?" "Enggak kok. Ini cuma leren bentar di musholla habis itu pulang ke kost. Jadi mau jemput jam berapa? Kamu nggak Jumatan dulu?" kata Astrid berpura-pura tidak lupa dengan janjinya untuk pergi siang ini bersama Hanung. "Jumatan dulu...