Langsung ke konten utama

Postingan

Felicity: Coretan Perempuan Bahagia - Sebuah Narasi Singkat Bersama Para Guru PAUD Perempuan

Halo, saya Devi Nirmala Muthia Sayekti bersama rekan saya Dessy Rachma Waryanti yang merupakan dosen di ISI Surakarta ingin membagikan sebuah karya tulis sederhana kami dalam bentuk booklet. Booklet ini berisikan hasil karya lukis para guru PAUD perempuan yang terhimpun dalam HIMPAUDI Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Tak sekedar katalog karya biasa, kami mencoba sedikit menarasikan bagaimana persepsi kami dalam melihat kebutuhan para guru PAUD akan akses pengetahuan seni rupa. Terlepas dari semua itu, kami juga menangkap bahwa kebutuhan dasar mereka untuk berbahagia perlu senantiasa difasilitasi. Tidak hanya dengan cara yang menghabiskan banyak biaya. Tetapi juga bisa melalui kegiatan seni yang ekspresif dan memberikan kelegaan jiwa bersama. Terlampir file dari booklet yang kami maksud Felicity - Coretan Perempuan Bahagia.pdf Semoga berkenan dan selamat menikmati

Rekomendasi TV Series Favoritku

  Day 6 - Top 5 Serial TV Favorit Sejujurnya, aku bukan penikmat TV garis militan. Sejak tahun 2011, alias ketika jadi mahasiswa baru di Solo dan ngekos, kehidupanku bersama TV bisa dikatakan jarang sekali. Sampai akhirnya aku kerja dan nikah, aku bisa hidup tanpa TV dan nggak begitu akrab dengan acara-acara yang hits pada zamannya. Dan kini aku tertakdir jadi ibu rumah tangga yang kesepian, nggak bisa ke mana-mana, butuh hiburan, tapi yang murah meriah. Akhirnya aku diracuni untuk mulai menonton drama korea. Jadi di sini, aku akan menuliskan 5 judul drakor yang menurutku bagus dan recommended untuk ditonton. 1. Mr. Sunshine Bagi beberapa orang, drama ini katanya berat. Emang sih, ini drama sejarah gitu. Isinya juga berkaitan dengan isu identitas dan kelas. Terus nanti beririsan juga sama intrik-intrik Amerika. Wah seru sih pokoknya. Drakor yang nggak bucin. Jadi malah bisa belajar tentang sejarah dan isu sosial masyarakat Korea jaman baheula. Jadi cus deh ditonton. 2. Because this...

Top 7 Fakta tentang Aku yang Penting-Nggak Penting untuk Diketahui

  Day 5 - Top 7 Fakta tentang Diriku Astaga, topiknya klikbait sekali. Kurang tambahan kalimat, "no 6 bikin kamu nggak nyangka!" Hahaha, asli. Sebenarnya aku agak geli menulis dengan model semacam ini. Ya memang sih tulisan semacam ini memang SEO-friendly sekali. Orang yang kerja jadi penulis konten pasti udah kenyang banget model tulisan macem liputan on the spot ini. Tapi akutu masih suka geli aja kalau nulis model begini dengan identitas asli. Sama sekali bukan aku. Apalagi yang dibahas soal diri sendiri. Narsis banget buset. Siapa juga yang peduli soal fakta tentang diriku? Hahahaha Tapi yang namanya challenge , masa iya gampang-gampang mulu. Oke deh! Gue ladenin! Cus, tanpa banyak omong kosong, mari kita simak 7 fakta tentang Muthia Sayekti yang sebenernya nggak penting-penting amat buat kamu ketahui. 1. Kenyang Minum ASI sampai usia 4 tahun! Sumpah. Aku menulis ini dengan segala ketakutan akan karma. Aku takut banget ya Allah kalau anakku menuruni sifatku yang susah ba...

Pencapaian Hidup yang Kecut dan Mengerucut

Day 4 - Pencapaian tertinggi di hidupmu Sejak kecil aku dibentuk jadi manusia yang ambisius. Jadi, keliatan sih kalo di sekolah dan di kampus, aku suka semangat berapi-api jadi murid yang aktif. Orang kalo julid, mungkin ngiranya aku berhasrat banget biar stand out . Nggak usah dibayangin, aku aja kalo keinget suka nggak habis pikir, ternyata aku dulu se-malesin itu. Hahaha kayak kurang woles gitu jadi orang.  Orang-orang terdekat menilai aku ini adalah sosok dengan tekad yang kuat alias ngeyelan. Kalau mau ini ya ini. Dan aku akan ikhtiar sampai energi terakhirku untuk meraih apa yang aku mau itu. Tentu dengan cara yang halal dan dibenarkan ya... Intinya, kalau aku punya target maka aku akan gigih untuk mewujudkannya.  Tapi seiring bertambah usia, ada banyak hal yang berubah. Walaupun aku tetap punya banyak keinginan, aku sudah bisa lebih santai dalam berikhtiar dan menaruh harapan. Kenapa demikian? Karena ternyata aku sudah lelah dihantam stres karena target-targetku sendiri...

Harap Tak (Banyak) Berharap

  Day 3 - Harapan terbesar untuk blog kamu "Don't expect too much, or you will hurt much" begitu kata pepatah. Dasar aku orangnya lagi mencoba sembuh dari masa-masa depresif yak, jadi mohon maap nih kalau aku belum berani juga pasang standar yang gimana-gimana. Tapi, jujur, ikutan #BPNRamadan2021 ini merupakan salah satu caraku untuk healing.  Asal kalian tahu, aku sudah vakum menulis selama satu tahun pasca melahirkan. Selain repotnya mengurus bayi dan rumah tangga, aku juga merasa kehilangan daya dan semangat untuk menulis. Aku hanya bisa berencana membuat kerangka tulisan, tapi pada akhirnya semua itu hanya berakhir pada rencana omong kosong belaka. Aku stres setengah mati. Aku bahkan sudah kehilangan semangat, apakah seumur hidup waktuku akan habis untuk mengurus anak tanpa bisa menulis lagi. Sampai mati. Oh, sungguh, melelahkan sekali dan membosankan setengah mati. Ya Allah Gusti, waktu itu doaku hanya ingin segera menyusul almarhumah ibuku saja saking lelahnya. Akhi...

Ngeblog untuk Cari Duit?

Day 2 - Alasan Mulai Ngeblog Tidak satu atau dua kali saya punya keinginan untuk menjadikan blog saya sebagai ladang untuk menambah penghasilan. Sudah banyak teman-teman saya yang berhasil di bidang ini. Saya akui, mereka memang konsisten untuk mengembangkan diri di bidang blogging hingga bisa berkarir bagus di dunia digital marketing. Kalau dipikir-pikir, saya sebenarnya juga punya potensi yang sama. Saya tidak buruk dalam menulis. Walaupun saya mengaku, saya masih butuh banyak belajar di bidang visual, baik itu desain grafis atau fotografi. Bagian ini sih yang bikin saya sering minder untuk nggak melanjutkan keinginan saya memonetisasi blog saya sebagai lahan cari duit. Saya merasa nggak pinter, atau mungkin kurang gigih belajar di bidang visual.  Huhu, iya aku malesan banget, gaes... Aku akui itu. Tapi pada dasarnya, sejak awal saya bikin blog ini murni untuk bersenang-senang. Saya suka sekali menulis. Tentu saja menuliskan pengalaman, alias curhat! hehe. Walaupun saya ekstrover...

Nama dan Makna

Day 1 - Arti nama blog Dulu sekali, nama blog saya adalah "Bunga Berakar". Terdengar picisan dan sedikit alay ya? Hehehe. Tapi nggakpapa, dulu nama itu kupilih karena diinspirasi dari kawan dekat saat SMP.  Dia pernah berkata kalau bunga itu diibaratkan sebagai perempuan. Akar merupakan bagian dari tumbuhan yang dianggap sebagai tonggak utama. Yang biasanya menguatkan. Jadi ya kira-kira begitu. Bunga berakar merupakan medium saya untuk menulis ketika saya mulai lemah menghadapi kisah kasih kesah kehidupan. Saya merasa harus menjadi sosok perempuan yang kuat. Sehingga ketika saya merasa lelah dan lemah, maka saya menulis, untuk menguatkan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai dikenal dengan nama Muthia Sayekti. Ini nama asli saya, bukan sekedar nama pena. Meskipun ada nama lengkap saya yang lebih panjang, tapi Muthia Sayekti lebih familiar bagi orang banyak. Perlahan... Saya mulai malu menyebut nama bunga berakar lagi. Entah kenapa. Nampak terlalu flowery... Sedangkan kelakua...

Konsep Suguhan Pernikahan dan Segala Resikonya

Beberapa hari yang lalu, saya merasa tersentil dengan komik singkat karya mas Dody YW yang diunggah melalui fanspage FB-nya " Goresan Dody ". Jujur, saya merasa tersentil sekaligus baper. Memang apa sih isi komiknya? Nih, berikut media komiknya saya lampirkan: Adab Makan sambil Duduk credits: FP Goresan Dody Sebagai individu yang sejak lahir di Semarang sampai lulus SMA, saya memang lebih familiar dengan konsep pernikahan yang menyuguhkan hidangan secara prasmanan. Para tamu disetting untuk antre makanan dan setelah dapat harus berdiri sambil berdesak-desakan untuk makan. Apakah tidak ada kursi? Biasanya ada, tapi jumlahnya hanya 1/10 dari jumlah undangan yang hadir. Berbeda dengan konsep pernikahan yang ada di Solo Raya (Sukoharjo, Klaten, Wonogiri, Karanganyar, Sragen), pernikahan dengan cara piring terbang masih mudah untuk ditemui. Meskipun beberapa ada yang sudah beralih dengan menggunakan konsep prasmanan, tetapi piring terbang masih jadi andalan. Pola menuny...

Info Harga Sewa Gedung Pernikahan (Venue for Wedding Package) di Semarang

Halo, semuanya... Lokasi Alam Indah Resto - dok. pribadi Jumat ini rasanya saya agak buntu ingin menulis apa. Akhirnya saya membuka sebuah forum pertanyaan di IG Story untuk mencari inspirasi, kira-kira tema apa yang menarik untuk saya ulas di blog pekan ini. Beberapa merekomendasikan untuk menulis hal-hal yang sifatnya personal. Ada juga yang menyarankan saya untuk menulis beberapa tema terkait masalah psikologi (mungkin karena dua buku yang saya tulis isu sentralnya psikologi populer ya hehe). Tapi, akhirnya hati saya kok malah condong menulis ini... Hehehe... Sekalian sharing  saja sih. Saya memang sedang mempersiapkan pernikahan. Pun, untuk urusan perkuliahan, saya kebetulan juga concern  untuk meneliti dunia industri pernikahan. Jadi, ya sekali tepuk bolehlah 3-4 urusan bisa diselesaikan. Mohon doanya ya semoga semuanya lancar dan segala sesuatunya dipermudah. Semoga juga nggak ada yang julid doain yang jelek-jelek.. hihi ups... *istighfar* Jadi di sini, ...

Review Buku "Rules of Love" by Esty Dyah Imaniar - Sebuah Panduan Cinta Anti Baper (Katanya)

Sejak kapan kepentingan tentang "cinta" perlu ada panduannya? Memang siapa Esty kok berani-beraninya menulis panduan tentang cinta yang berbumbu disclaimer  "NO BAPER BAPER CLUB"? Pacaran saja belum tidak pernah. Patah hati saja belum punya (banyak) pengalaman. Kok bisa-bisanya menulis buku, judulnya "Rules of Love". Ckckck... Bagi sebagian kalangan, topik tentang cinta memang sesempit dunia relasi antara dua manusia berbeda lawan jenis yang memiliki ketertarikan rasa. Padahal, "cinta" bagi orang-orang seperti mba Esty (dan juga saya) memiliki makna yang lebih universal. Cinta kepada sesama manusia tentunya, tapi tidak selalu berkutat pada pasangan. Juga cinta kepada makhluk hidup lain yang ada di dunia ini sebagai bentuk ciptaan-Nya. Saya memang pernah jadi bucin alias budak cinta. Gagal berelasi dengan seseorang, hmm ya beberapa orang sih tapi yang membekas betul hanya seorang (eh tapi bukan berarti saya belum move on lho ya), hingg...

Miyago Pak Joko - Rekomendasi Pecinta Mie Ayam di Semarang

Kalau teman-teman termasuk mie ayam holic kayak saya, nih... saya minggu lalu baru saja jajan ke Mie Ayam Goreng alias Miyago di warung Pak Joko. Lokasinya di daerah Banyumanik. Jadi kalau kalian sering ke daerah Semarang atas, dan sliwar-sliwer mau ke arah tol dan lewat Jalan Durian, coba deh mampir ke sini. sumber: dokumentasi pribadi Tidak seperti mie ayam kebanyakan yang disajikan dengan kuah, mie ayam ini hadir tanpa kuah sama sekal. (Ya iyalah ya... namanya juga mie ayam goreng. hehehe). Eh, tapi di sini juga menyediakan mie ayam yang kuah kok. Cuma... ya... menurutku mie ayam kuahnya kurang begitu enak. Kayak kurang asin gitu, hambar, kalo orang Semarang bilang anyep. Jadi, kalau kalian mampir ke sini, saran saya sih pesan miyago-nya saja. Rasanya kayak gimana sih? Jadi, main taste  dari miyago ini lebih ke gurih. Tidak dominan manis kecap seperti bakmie jawa yang beredar tiap malam di depan rumah. Sama seperti makan mie instan, tapi lebih gurih. Saya pikir awa...

Perawatan Rambut Berhijab - Anti Kusut, Lepek, dan Rontok ala Muthia Sayekti

Rambut yang tertutup memang sering bikin jadi gampang lepek, kusut, dan yang pasti rontok. Alhamdulillah setahun belakangan, ketiga masalah itu sudah bisa kuatasi dengan baik. Penasaran gimana caranya? Yuk, kita bahas bareng di sini. sumber: dok. pribadi Muthia Sayekti Kalau aku berselancar di linimasa media sosial, sering aku jumpai teman-teman di sekitarku yang mengeluh dengan permasalahan rambut mereka, terutama bagi teman-teman muslimah yang berhijab. Masalah-masalah yang mereka hadapi paling banyak adalah kerontokan. Bahkan tidak sedikit yang rontoknya sudah kronis. Disisir sedikit langsung mbrodol , sampai ada yang cerita kalau rambut rontok mereka bisa bikin saluran pembuangan di kamar mandi mudah tersumbat. Makanya ada beberapa kawan yang jadi malas menyisir rambut, yang efeknya jadi gampang kusut. Hmm... kompleks ya. Ada pula yang mengeluh kalau rambutnya sering lepek dan berminyak. Ya, kalau bagian ini aku sendiri tidak bisa menafiki sih... karena memang kita t...

[Review Buku] Merasa Beruntung Menjadi Minoritas - Moddie AW

Kalau kalian suka baca-baca esai yang lucu dan nakal, serta sarat akan sentilan yang santun, maka saya sarankan untuk tidak terlewat membaca buku ini. sumber: dok. pribadi oleh Muthia Sayekti Dulu, saat masyarakat masih dekat dengan koran sebagai media massa, orang-orang biasa menemukan kolom-kolom khusus yang diperuntukkan bagi para kritikus untuk membuat tulisan yang ringan-berbobot dan memiliki daya gelitik yang tajam. Sebutlah mereka kolumnis. Ada beberapa nama penulis kolumnis senior yang bukunya sudah saya cicipi, seperti Sudjiwo Tedjo, Butet Kertaradjasa, dan yang pasti Umar Kayam (karena beliau adalah idola saya hehe).  Nama-nama tersebut adalah orang-orang yang dikenal sebagai budayawan yang gemar melontarkan gagasannya dalam tulisan yang jenaka. Lelucon mereka sering disebut sebagai bentuk kritik kepada orde yang sedang berkuasa, atau pada isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan. Semuanya dibahas dengan menggunakan pilihan kata yang familiar didengar ol...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (3)

Dengan mengantongi jawaban "iya" dari beliau-beliau, akhirnya saya sampaikan ke mas tersebut. Saya bilang terus terang kalau saya sudah ikut sebuah lingkaran pengajian. Itu artinya, yang hendak menikah dengan saya juga harus "meminta izin" pada guru ngaji saya, bahkan sebelum menghadap orang tua saya. Sehingga, saya utarakan terus terang, "Mas kalau memang mau serius sama aku, silakan ketemu beliau dulu. Kalau beliau kasih izin mas untuk berproses denganku, maka insya Allah aku siap. Kalau nggak, maka untuk selanjutnya hubungan kita hanya bisa diteruskan sebagai teman biasa," lugas, meski tetap menggunakan bahasa kiasan, aku mencoba untuk tidak berbelit. Ia merespon perkataan tersebut dengan nafas panjang. Terbaca betul gestur tubuhnya bahwa ia merasa cukup ribet untuk mendekati saya. Saat itu saya sudah berekspektasi bahwa ia akan menyerah. Dan lagi-lagi saya gagal dalam membuat terkaan. "Oke, insya Allah aku akan segera temui beliau." ...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (2)

Oke, lanjut ya... Dari cerita yang kemarin . Setelah dia menyanggupi, saya justru kelabakan sendiri. Dia menganggap bahwa saya nembak  dia. Padahal kalau boleh jujur, saya suka sama dia saja belum. Ini bukan tentang gengsi atau harga diri, you name it . Tapi kacamata kuda saya saat itu melihat kalau orang ini belum bisa memenuhi kriteria yang saya pasang seperti orang yang saya ceritakan sebelumnya. Mengapa demikian? 1. Awal perkenalan pada obrolan santai, ia mengaku pada saya bahwa ia belum berorientasi untuk menikah dalam waktu dekat. 2. Masih ingin lanjut S3 sambil kerja untuk menyenangkan orang tuanya. 3. Saat itu dia belum menyelesaikan studi masternya, belum berpenghasilan tetap, sementara saya justru sudah bekerja. 4. Pada beberapa pandangan dan tindakan dalam wacana agama, saya belum merasa cocok untuk dipimpin oleh lelaki seperti dia. Saya realistis betul dan bisa mahfum atas pertimbangan tersebut. Oleh karena itu, kalimat saya yang terdengar nanting  itu...

Pernikahan dan Perjalanan Pemikiran Tak Berkesudahan (1)

Setelah sekian lama, akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis lagi dalam rangka murni berbagi. Ya, tulisan ini murni saya buat untuk curhat. Dengannya saya sudah cukup siap untuk dicacat sekaligus dihujat. Sebab saya tahu betul, butuh waktu lama bagi saya untuk kembali mengumpulkan tekad menulis dari hati seperti dulu lagi. Yang tak berbumbu teori yang ndakik-ndakik , yang katanya tulisan curhat itu nilainya picisan, tapi justru melegakan, meskipun juga memalukan. Cukup sudah intronya. Langsung saja, saya ingin menulis kegalauan saya tentang pernikahan. Baiklah, saya awali dari sini:  Kalau kalian semua tahu, mungkin juga me nebak, saya mengalami perubahan penampilan sejak tahun 2014 silam. Wacana agama memang melingkupi kehidupan saya sejak ibu saya mangkat. Saya menemukan ketenangan di sana, dan akhirnya saya memutuskan untuk berislam secara totalitas dan tidak lagi setengah-setengah. Kalian boleh bilang hal itu adalah sebuah eskapisme sesaat. Muthia dengan ‘...